Senin, 19 Januari 2015

Sebuah Jawaban

" Tuhan... Ini aku dengan segala keterbatasanku,
Ini aku dengan hati luka, tak seperih hatimu terluka oleh dosaku,
Aku sebenarnya capek bertahan sama perasaan ini,
Sama penipu ini, sama kasih sayang palsu ini,
Sama rindu yang sangat curang ini,
Selalu datang seiring bertambahnya waktu,
Segala ketidakmungkinan memang ada,
Maaf Tuhan...
Aku terlalu gegabah mungkin berambisi...
Aku terlalu menaruh harap,
Aku berdiri sama janji dan ketetapan dia terhadap aku,
Aku bahkan yakin, dia adalah jawaban segala doaku,
Aku terlalu menganggap dia selalu ada bagai angin yang selalu kuhirup,
Aku terlalu mencintai kualitas dirinya,
Aku bahkan tidak mengijinkan orang lain masuk dengan sembarang...
Bukan karena dia kesenangan,
Tapi karena suatu keabadian yang aku inginkan.
Tuhan...
Terima kasih atas perkenanmu,
Engkau memberi dan membawa dia kepada ku,
diwaktu yang keliru.
Terima kasih untuk pikiran dan akal sehatku
memahami cara dia mencintaiku seperti ini.
Bisa rapuh karena ini,
Bisa tahu aku tiada bedanya ketika dia menderita,
Dialah hanya bagaikan angin..
Bisa aku rasakan sejuknya cinta,
Bisa aku hirup kasih sayangnya,
Tapi...tidak dapat menggenggam dan membiarkan dia pergi lagi, entah kemana.
Terima kasih semuanya Tuhan.
Semakin jelas bahwa, perjumpaan ini hanya bersifat sementara yang Engkau ijinkan.
Pertemuan ini tidak layak untuk lebih dari apa yang aku pinta didalam doaku setiap malam.
Aku tidak temukan cara untuk menuntunku ke sana,
Justru, terus memaksa aku biar berbalik arah..."

Sekali lagi...
Tuhan, terima kasih untuk kasih yang tak sampai 
Maafkan a