Jumat, 30 Januari 2015

Kekayaan Hati

"Kebaikan terbesar yang dapat Anda lakukan untuk orang lain bukanlah berbagi kekayaan Anda, tetapi mengungkapkan padanya kekayaan yang dimilikinya."

-Benjamin Disraeli-


Cerita ini, dihari kemarin yang belum saya ceritakan lewat blogspot ini. Saya merasa kaya yang tak terperikan dari seorang balita. Dia adalah adik tiri saya sendiri, Franklin Frederich Kawahe. Yang umurnya masih sibawah 5 tahun (3). Adik saya ini dikenal sangat cerewet, pelit, mau menang sendiri, bawel, kadang-kadang sangat meresahkan. Ditambah lagi, kalau papa saya sangat manja dan mudah menuruti permintaan si Franklin. Meskipun begitu, saya memaklumi dia yang masih kecil, butuh perhatian dari orang-orang terdekat. Termasuk saya sendiri sebagai kakak tirinya yang orang-orang mengira bahwa Franklin adalah anak saya. Haha!

Seperti biasa, pagi-pagi benar ketika saya bangun tidur, adik saya adalah orang pertama bilang " Tata Ancye, mo pi kelja?" pertanyaan singkat menyambut pagi. "Io noh... Kakak Ansye mo pi kerja mo ba apa kote?" Jawab saya sambil merangkul dia yang pada saat itu sedang memeluk mobil mainannya. "Tata Ancye mo pi cali uwang, mo bili atang bepang deng...deng... mainan for Acin." Sebuah harapan dari seorang adik saya, yang sudah 2 bulan tidak menerima hadiah mobil-mobilan dari kakaknya. Heheh maap ya!!
Jam sudah menunjukan pukul 07.34 WITA. Artinya, saya harus bersiap untuk pergi kerja. 
Suasana lingkungan dikompleks rumah saya, cukup ramai karena rata-rata tetangga termasuk keluarga kami sedang membangun rumah. Mobil-mobil muatan pasir, batu, dan bahan-bahan membangun rumah selalu menjadi pusat perhatian karena suara para kenek-kenek dan orang-orang disekitar, juga suara mobil truck besar saat hendak menurunkan bahan-bahan bangunan tersebut.
Hal inilah, membuat adik saya berdiri, melihat sambil berkata "Opa..opa...co lia tu batu-batu ja cili." Adik saya ini seperti decak kagum melihat itu. Yah, pikir pada pikir namanya juga anak-anak. Melihat tingkah ini membuat saya dan seisi rumah tertawa terbahak.
Sejam kemudian... saat saya hendak keluar rumah untuk pergi kerja, tak lupa saya pamit orang-orang dirumah dan tak lupa adik saya ini, Franklin. 
"Omaa...opa... somo pigi dulu ne."
"Io...bae-bae sana dijalan." Jawab mereka
"Acin... Kakak Ansye pigi dulu ne? Da..da.." pamit saya sambil melambaikan tangan. 
"Da..da..tata Ancye, mmmm...uach"

Saat hendak keluar rumah, suara cempreng terdengar lagi. 
"Eh...eh...tata Ancye, jangan dulu pigi,"
Saya hanya bisa mengatakan "Hi...kakak somo pigi kerja dang?"
Tanpa perduli jawaban saya dan waktu saya, Franklin membalas
membalas, "Io, jangan dulu pigi. Kase pigi dulu tu oto. Mo tatindis deng batu-batu."

Pelajaran berharga, anak se-usianya yang begitu mengerti khawatir buat orang-orang dikasihinya. Kata-kata polosnya itu, sempat saya menitikan air mata saya dalam perjalanan pergi kerja. Seumur hidup, baru kali ini saya dengar seperti ini dari anak kecil 2 tahun 5 bulan yang pada umumnya belum mengerti apa-apa yang namanya musibah.

Adikku Franklin,
Jadilah anak yang baik dan buat ke-2 orang tuamu bangga dengan kekayaan hatimu. Lipatgandakanlah kebahagiaan orang tuamu suatu saat nanti dan kurangi kesedihan mereka jika kau besar kelak. :))