Karena waktu kita telah habis, saya kembali balik arah mencapai tujuan bukan untukmu.
Karena waktu kita telah habis, mengerti bahwa saya hanya tempat berteduh.
Karena waktu kita telah habis, saya melepas semua keegoisan yang hanya buat kau sakit.
Karena waktu kita telah habis, saya melunaskan kata-kata harapan dengan tidak ada lagi saling menyakiti
Kuakui memang sulit saat harus bertemu lagi dengan sosokmu yang telah sekian lama menjadi sosok yang asing bagiku. Setelah waktu berjalan dengan caranya sendiri, rupanya kau pun berubah. Sulit bagiku untuk dapat bertemu denganmu, pikiranku selalu dipenuhi tanya. Seperti apa rupamu kini, masih samakah suara renyah tawamu, apakah kau bahagia dengan hidupmu sekarang, bagaimana saya akan memulai percakapan denganmu, mampukah saya menatap matamu. Ah, entahlah... Ini tulisan terakhir untuk kamu. Yang adalah sumber inspirasi yang bermuara.
Satu malam, malam yang sangat menginginkan kamu. Yang ada kamu hanya menyakiti dengan cara kamu. Kau bilang kenapa aku harus menyambut kedatanganmu, kenapa aku tidak fokus dengan dia yang disaat aku yakin rasa sayangku padamu tidak akan termakan oleh waktu.
Saya capek dan saya lelah meyakinkan cintaku dengan selalu ada untuk kamu, turut berduka ketika kau merasa sendiri. Dan saat itu sama sekali tidak ada artinya buat kamu, saya menangis sepanjang malam, dan diesok hari saya legaa, sungguh sangat lega.
Saya sadar, cinta kita hanya dibangun diatas pasir. Mudah runtuh dan tergoyahkan ketika badai itu datang. Bukan membangun diatas batu/fondasi yang kuat. Itu semua karena waktu kita telah habis.
