Sabtu, 18 Februari 2012

Bekerja Seperti Bekerja Untuk Tuhan

Ketika Tuhan mengangkatku dari keterpurukan, aku membuktikan bahwa aku mampu menanggung perkara-perkara kecil yang pada akhirnya aku diberi tanggung jawab yang besar. Dan berkat Tuhan itu memang begitu melimpah.

Tetapi kini mengapa aku menjadi seolah tidak mensyukuri kasih Tuhan? Apakah karena aku sudah jauh dari Tuhan karena tanggung jawabku yang semakin besar membuatku terlalu sibuk? Atau apakah aku sudah terjerat dalam keduniawian?

Ya, benar, aku sedang dalam suatu pergumulan yang seharusnya tidak perlu menjadi sebuah perkara besar. Tapi saat pergumulan itu mendera, aku seolah bukan diriku lagi. Bukankah seharusnya aku menjadi garam & terang dunia? Tetapi mengapa aku menjadi sambal yang pedas? Mengapa aku harus membuat pedas hidup sahabat-sahabatku?

Aku harus mengakui bahwa aku telah egois karena mementingkan diriku sendiri. Aku terlalu sombong dengan semua yang telah kucapai. Aku terlalu menuntut kelayakan yang seharusnya kuperoleh. Aku beranggapan bahwa aku memang pantas mendapatkannya. Tapi benarkah demikian? Dalam pergumulanku, aku mengaku bahwa aku salah.

Tuhan telah menegurku ketika aku pada akhirnya teringat nasehat dari Kolese 3:23,

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Entah bagaimana Tuhan bekerja, tetapi ayat ini menyadarkanku. Ya benar, aku seharusnya bekerja dengan sepenuh hati seperti bekerja untuk Tuhan.

Karena sampai detik ini aku telah banyak mengalami kasih Tuhan. Berkat Tuhan yang melimpah telah kunikmati. Tuhan telah bekerja dengan setia setiap hari dalam Kasih-Nya yang luar biasa. Lalu apa balasanku?

Apa pun yang terjadi, apa pun perlakuan kepadaku, aku akan menerimanya. Dan aku akan tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, karena aku bekerja untuk Tuhan.

Tidak ada komentar: