Sabtu, 10 Oktober 2015

Stay healthy

Bisa dikatakan minggu ini minggu kelabu. Haha...pasalnya, seminggu full saya menghabiskan waktu di rumah yang ada di kampung halaman. Yup, Towuntu Minahasa Tenggara. Seminggu pula saya memilih untuk tidak bekerja dikarenakan tifus saya kambuh lagi hari senin kemaren. Untung saja, sobat saya sekaligus kakak Fitri menjadi pertolongan pertama disaat saya sakit. Disini pula akhirnya mengerti "tetangga" adalah orang pertama yang menolong kita kalau kita kenapa-kenapa. Keluarga yang jauh, pastinya datangnya belakangan. But, puji Tuhan saya dipulihkan lewat pergumulan sakit dan tentunya semakin dikuatkan untuk semangat menjalani kehidupan yang penuh dengan misteri. Emang yang namanya "sehat" itu sangat mahal dan berharga.



Ketika saya pulang ke rumah di kampung halaman, saya menyibukan diri bersama kakak untuk membersihkan rumah yang dihuni Papa selama 4 hari dalam seminggu. Sisanya Papa menghabiskan waktu bersama Istri dan anak-anaknya di Manado. Mulai dari ngepel semua lantai, menyuci sprey dan pakaian Papa, masak, hingga semua tanaman yang ada dihalaman dan di dalam rumah diatur kembali biar tampak lebih indah dan tidak lagi berdebu.
Saya akhirnya merasakan kepuasan dan berpikir bahwa semua ini saya lakukan demi kebaikan diri secara pribadi dimasa yang akan datang.
Kebersihan itu penting untuk kelangsungan hidup kita.



Setiap hari yang bisa kita lakukan adalah menyapu lantai dan membersihkan rumah kita dari kotoran dan debu yang menjadi sumber segala penyakit. :)


Keep Clean,
ANSYELLA


Jumat, 02 Oktober 2015

Family POTRAIT

Apa itu keluarga? Konsep paling "ideal" keluarga itu seperti yang kita ketahui, ada satu Bapak, satu Ibu, satu atau dua anak bahkan lebih, jika masih ada Kakek dan Nenek akan menjadi baik. But, in another side, masih saja kita jumpai hanya ada Ibu dan Anak, Bapak dan Anak, bisa jadi Kakak dan Adik, Bapak dan Ibu, bahkan seorang Anak hidup seorang diri.

Yang menjadi pertanyaan, "kapan terakhir kita melakukan sesi foto keluarga yang lengkap (utuh)?" jika pertanyaan ini ditujukan pada saya, saya bakal jawab momen ini tidak pernah terjadi sepanjang kehidupan saya bersama keluarga yang didalamnya Saya, Papa, Mama, dan Kakak. Saya terkadang iri ketika saya berkunjung ke rumah teman saya bakal lihat beberapa foto keluarga terpajang di ruang tamu dengan pose tertentu yang sudah diatur (seolah mereka begitu bahagia). Mengenakan kostum yang telah disepakati bersama.

Bagaimana dengan saya? Boleh dikatakan kata "ideal" itu tidak menghiasi dinding rumah saya. Yang saya maksudkan adalah foto keluarga lengkap. Tapi saya berusaha menghilangkan rasa "tidak bersyukur" dengan selalu percaya bahwa every moments is so precious when i am with my family.
Nyaris "Ideal" itu sekitar 19 tahun yang lalu saat saya masih berusia 4 tahun berfoto bersama Papa dan Mama saat menghadiri acara wisuda Papa disalah satu Perguruan Tinggi Perikanan di Jawa Timur. Saya mengenakan dress mini, rambut cepak, dengan wajah sedikit cemberut karena kelaparan (hehe). Tak kalah, Mama juga mengenakan blazer merah dalaman kemeja putih dibarengi tas kulit berwarna hitam (Yang sekarang masih bersama-sama dengan mama didalam peti sejak 30 September 2007). Dan tentunya Papa yang mengenakan toga sebagai tanda kelulusannya. Saat itu pula Kakak tidak bisa bersama dengan kami karena Mama menitipkan dia sama Oma di kampung halaman.

Foto ini satu-satunya foto lawas yang tersisa saat kami tinggal di Sidoarjo selama 3 tahun lebih. Yang sekarang tepat terpampang begitu rapi di lemari hias milik oma (ibu dari mama).

Foto versi tidak lengkap dan tidak se-"ideal" pada umumnya, bagi saya itulah arti keluarga. Karena, ketika tidak sempurna, inilah menjadi alasan terbesar kami akan kembali pulang.


Ansyella