Belakangan ini, tanpa saya sadar saya telah memilih variabel yang namanya resiliensi--- yang kalau di ilmu Psikologi itu artinya sebuah emotional stamina yang memungkinkan seseorang untuk bangkit ketika dia mengalami peristiwa traumatis, kemalangan, atau sesederhana sebuah kegagalan. Bayangkan saja 4 bulan barusan lewat, saya telah membuang energi positif menjadi kerugian yang sangat besar dalam diri. Saya mungkin orangnya sedikit melankolis, hati yang mudah tersinggung, terlalu berhati-hati, yang dampaknya dapat menghalangi untuk mencapai kehidupan yang memuaskan. Yeaahhh, it's ok lah akhirnya saya paham bahwa hidup tidak semulus paha para personil girl band terkenal Girl's generations. Haha... Ekpetasi tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Mungkin iya, tapi butuh perjuangan ekstra.
Kalau saya pelajari sedikit tentang resiliensi, harapan saya cukup sederhana. Dimana, saya bisa lebih resilien dalam menghadapi perjalanan hidup yang pasti up-down. Yang pada akhirnya saya belajar menghargai moment-moment buruk yang saya alami. This is only a beginning of what they called the real world.
Dan, puji Tuhan sekali saya tidak sendiri didunia ini. Punya rekan kerja yang tegur keras kalau memang saya keliru dalam mengambil option hidup. Hehe
Punya papa yang always available in every bad and good conditions.
Tentang dia? Sudahlah jangan dibahas.
Sudah dulu ya, saya kalau mau teeruskan...yang ada pasti akan menitikan air mata sesekali bahkan akan deras turun. Haha maaf lebay!
Warm regards, Ansyella
Tidak ada komentar:
Posting Komentar