Napas berembus mengepul dari mulut saya dan seketika pula menghilang ditelan malam bulan Juni. Bulan yang telah lama dinanti untuk jawaban segala doa harapan, ternyata hanyalah sebatas angin malam yang hilang entah kemana arah perginya. Saya baru saja menjadi 'ex' dari seorang lelaki yang adalah teman semasa kecil yang memutuskan di awal oktober menjadi deman untuk hari-hari yang Tuhan telah anugerahkan. Keputusan kami tidak begitu menyakitkan atau sulit. Kami tahu, bahwa percakapan kami semalam selama kurang lebih 2 jam adalah percakapan berkualitas. Kami sadar, bahwa tidak bisa paksakan status kami sebelumnya, mungkin kami hanya mencoba selama kurang lebih setengah tahun.
Ketika saya menutup mata (bukan untuk terlelap, tetapi kembali mengingat apa yang kami lakukan), tiba-tiba terlintas sesuatu dalam pikiran saya. Saya akhirnya paham betul apa yang diinginkan dari seorang dia. Saya bangkit dari tempat tidur dan mengambil buku harian periode February 2015-May 2015. Ternyata, kalimat curahan hati saya kepada Tuhan tentang pasangan ternyata ia tidak sama sekali mirip dengan apa yang saya tulis, katakan, dan doakan. Mengapa begitu? Saya bertanya lagi kepada diri sendiri, bahkan sesekali menghalangi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tolol.
Napas saya terhenti sejenak, saya memahami sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya mengerti. Saya ternyata tidak cukup pintar untuk bisa berhasil membawa hubungan spesial dengan seseorang dengan waktu yang cukup lama. Saya bahkan iri melihat teman saya bisa menikah dengan pasangannya yang masa pacaran hanya 5 bulan saja, bahkan ada pula teman saat seorang pria menyatakan cinta-nya bukan "maukah kamu jadi pacar-ku?" tapi sebuah pernyataan lembut tapi seolah-olah kuat dan optimis tidak akan goyah "maukah kamu jadi istri-ku?".
Mungkin inilah yang menghalangi saya untuk memperoleh apa yang sesungguhnya saya inginkan dalam hidup dalam konteks "pasangan". Bukan karena saya 'tukang pilih' yang sebelumnya telah dilontarkan banyak orang. Tapi, saya tidak bisa menerima takaran (kata kasarnya, takdir) yang mungkin Tuhan ijinkan terjadi.
15 menit kemudian, ponsel kembali berdering dan nama-nya yang belum saya rubah terpampang jelas dilayar ponsel.
"Sye...?" kata dia tidak mengawali "hallo"
"Ya?" sahut saya mengambil nafas dalam-dalam
"Waktu yang telah kita buang, adalah waktu yang berharga kan? Tidak sia-sia bukan? Kalau kita tidak keseringan menelfon siang-malam mungkin kita tidak mengenal satu sama lain"
Ada kesunyian dalam pembicaraan di telepon itu.
"Iya..sukses kamu disana. Cita dan Cinta pastinya."
Kata saya sambil menyembunyikan isak tangis yang nyaris terdengar.
"Hmmm...sudah, kamu tuh cewek kuat yang selama ini saya kenal. Masa kehilangan mama bisa kuat, trus kalau saya kamu gak bisa?"
"Hiddiiiiihhh...ya ampun, ge'err bingit."
"Hahaha...canda kok. Saya kasihan liat kamu. Sementara saya disini blablablabal"
(Maaf tidak bisa dilanjutkan. wkwk)
Dear Mr,
Dengan kata lain kita bisa bersama lagi dikemudian hari hanya melanjutkan hubungan pertemanan kita yang sempat terhenti. Sampai jumpa, sampai saya bisa melihat alasan utuh kita bisa lebih dari seorang saudara. I Los(v)e You Forever...
With someone who always remember you day by days.
Ansyella


