Kamis, 14 Agustus 2014

Thank GOD, I'M so grateful for my life :)

Belakangan ini, saya merindukan rutinitas saya diwaktu tahun-tahun kemaren. Kuliah, jalan-jalan dengan teman-teman, pelayanan pemuda jemaat di kampung saya, pelayanan dengan paduan suara baik di kampus dan sanggar saya sendiri di Sojourner. Serasa 24 jam tidak cukup untuk melakukan berbagai aktifitas dimasing-masing kegiatan. Apalagi, kalau udah waktunya untuk nyanyi, paling tidak sabar untuk menunggu waktunya lebih parahnya lagi kalau pelayanan diluar jemaat di kota Manado. Saya waktu itu berpikir gak mau menyia-nyiakan talenta yang sudah Tuhan beri, hehe... Kuliah, di fakultas sastra Universitas Sam Ratulangi biasanya disibukkan dengan tugas-tugas dan ke-2 teman saya Reni dan Livi Pangemanan. Dan waktu weekend saya langsung cuss ke kampung halaman, yang saya habiskan waktu bersama keluarga besar dan teman sepelayanan di pemuda. Ini dia foto-fotonya...


With Livi Pangemanan and Renita Tewu

They are is my brothers and sisters in Christ. Youth in Towuntu, Liwutung and Tolombukan.


This photo was took after Orientation for new members of SC (March 2012 at Porotu'o villa)

With Rian Rompas as conductor at behind the Asia Pasific Choir Games big poster. Two of us posed after performance. (Youth Mixed) For the first time i sing in International event, haha.

And this is my last sunday service with them at GMIM Imanuel Tolobukan, souththeast of Minahasa. (February 2014).

Sebenarnya masih banyak lagi foto bersama mereka, yang terlalu banyak untuk diposting. Terlalu indah untuk dilupakan dan terlalu sedih untuk dikenangkan. Haha... Dan pada akhirnya saya tidak lagi banyak waktu bersama mereka. Karena ternyata ditahun 2014, yang terjadi tidak pernah direncanakan sebelumnya. Yahhh... saya sekarang bekerja, bekerja dan bekerja. Terlalu klasik sih saya mau bilang big reason nya, yang jelas, saya yakin ini adalah bagian dari rencana Tuhan yang indah untuk saya. Saat keadaan yang memaksakan saya menyadarkan bahwa 'kamu harus mandiri', 'kamu harus tau susahnya cari duit', 'Ansyella is an independent young woman', dsb. Awalnya susah..bahkan susahnya kebangetan. Tapi, Puji Tuhan dukungan untuk terus melakukan terbaik terus mengalir. Ka Kiel untuk kata-kata optimis, oma yang tiap minggu telfon tanya kabar dan terus kuatkan karena dia juga ternyata pernah ngalami hal yang sama disaat masih muda, kakak saya Lady Kawahe for everything i just wanna say thank you a lot, thanks for being my wonderful sister in this world, Papa yang selalu ngajarkan untuk terus rendah hati dan tidak sombong, teman-teman di PT. Finansia Multi Finance yang bikin saya terus tertawa lebar-lebar tak jarang bikin menguras emosi karena pekerjaan, but... i'm so grateful (hihi), konsumen-konsumenku yang baik-baik, kepala batu, bawel, semua-muanya deh, kalianlah alasan untuk saya bertahan hidup (dapat uang karena konsumen jadi ambil barang, wkwk), dan pastinya my greatest Lord, terima kasih untuk hikmat yang Tuhan beri untuk menyikapi persoalan-persoalan hidup yang saya jalani. Dan pastinya, harapan saya kedepan adalah terus bertahan dan loyal sama pekerjaan, gak kerja yaaaahhh susahh, resolusi ditahun depan untuk lanjutkan studi yang sudah ketinggalan, dan kalau dulu saya melayani masyrakat lewat puji-pujian kini melayani masyarakat lewat pekerjaan saya (kredit kebutuhan mereka perlukan :)). Dan inilah sebagian foto-foto saya bersama mereka. Check it out...

Those are is my officemate. From left to right ( Gladys Erfina as Phone Verifikator, Maya Lomban as marketing supervisor or BRO (Brand Relation Officer) for CRO (Credit Relation Offficer) traditional, Febrianto Adam as Phone Verifikator 2, and Andreas Leonard & Jazzy Madonsa as suveyors in KreditPlus)

I'm with KMB employe and Esther Pasiowan is the one of best marketing FMF in Indonesia. Isn't she wonderdul? :)

Ada ungkapan syukur yang tak henti-hentinya saya panjatkan sama Tuhan.
  •  Diluar sana, masih banyak yang susahnya mencari pekerjaan padahal sudah ditunjang dengan pendidikan lebih dari standart (S1)
  • Diumur yang masih relatif muda, sudah diajarkan untuk hidup mandiri
  • Memiliki teman-teman kantor yang baik dan kompak, tak memandang jabatan. Selama masih tahu menempatkan diri, kita semua seperti saudara bahkan kakak adik :)
  • Belajar bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan sekecil apapun
  • Memperbanyak relasi. Tak jarang customers lawan jenis ngakin nge-date 
So, bersyukurlah dengan hidup yang kita jalani. Jangan pernah menyesalinya.Saya ingat sama perkataan salah seorang teman bahwa hidup itu seperti renda. Ada saat kita berada disudut dan dibulatan-bulatan. Begitu juga dengan kita, ada saat dimana kita tidak pernah mengerti apa yang terjadi pada kita, adapula kita ngalami yang namanya bahagia. Kalau sedih terus indahnya dimana? kalau bahagia terus indahnya apa? Baiknya seperti renda yang begitu indah terlihat. Percayalah, ada kehidupan yang lebih baik Tuhan janjikan dibalik semua pergumulan yang kita alami. :)

Rabu, 06 Agustus 2014

My best Posed

This picture was taken by one of  my officemate, Micky Fernando Soputan. His so wonderful Credit Annalyst i've ever had. Wkwkwk.

Kenapa harus menulis?






"Orang pandai dalam setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah."  (Pramoedya Ananta Toer)

Banyak yang beranggapan, orang yang suka menulis adalah dia yang suka membaca buku. Padahal, tidak juga sih. Saya sendiri tidak punya buku yang bejibun yang tertata rapi dirak buku. Bukan juga penulis yang sudah menghasilkan banyak karya bisa sampe ditangan masyarakat. Kalau saya nih, lebih suka menulis 'what i've seen, what i've feel, and what i've done', kemudian saya mengekspresikannya melalui tulisan. Baik itu bentuk artikel, cerpen, bahkan bisa dijadikan puisi (ow,ow,ow). Semacam memberikan kontribusi kepada sesama untuk berbagi lewat tulisan saya.

Kalaupun saya menulis tulisan yang bukan dari pemikiran saya, saya pasti menyukainya dan menuliskan sumber tulisan saya dapat. Karena saya juga butuh referensi-referensi, atau sumber bacaan untuk penyempurnaan tulisan saya (tidak untuk di-copas, tapi mengembangkannya)
Menulis juga adalah proses berpikir. Berpikir, apa yang harus saya tulis? apakah bermanfaat untuk para pembaca? atau malah sebaliknya. Dengan begitu, saya mesti hati-hati, selektif dalam memilih judul. Tuntutan yang tidak mudah, sometimes... butuh hikmat dari-Nya. Hehe

  • Write by heart
Sesuatu yang dari hati pasti akan sampai dihati. Begitu juga dengan menulis. Saya yakin, akan jauh lebih bermakna jika kita memberikan kartu ucapan lewat kartu yang sudah dihiasi dari pada ucapan melalui pesan singkat. Bagaikan tulisan adalh ungkapan hati, dan hiasan adalah gambaran hati kita. Pernah, sekali saya memberikan hadiah ulang tahun kepada seseorang yaitu ungkapan hati lewat gambar karikatur dirinya dan dihiasi gambar hal-hal yang ia sukai. Hasilnya, wahh... senang pun tak cukup bagi dia dan pernah sekali ia berkata : "eh... saya masih menyimpan itu dilemari saya. Kue ultah seharga Rp335.000 yang pacar saya kasi langsung lenyap. Tapi, karyamu dengan budget Rp25.000 masih saya simpan."



  • Menulis dari sudut pandang yang berbeda
 Mulailah  menulis yang berbeda dari yang lainnya. Kamu tidak haru menulis yang sifatnya monoton. Bagaimana caramu melihat kejadian atau peristiwa aneh, sedih, lucu, ect.

  • 1 judul versi kita dengan orang lain
Oups, ini maksud saya bukan untuk bersaing dan melihat siapa yang lebih jago. Tapi lebih tepatnya bertukar pikiran lewat versi/ pemahaman masing-masing. Artinya, 1 tulisan memiliki banyak arti. Hehe

Dan masih banyak lagi...

Every Writer Is A Thief - Joseph Epstein

One of the really bad things you can do to your writing is to dress up the vocabulary, looking for long words because you're maybe a little bit ashamed of your short ones. - Stephen King

Jumat, 01 Agustus 2014

TERSELUBUNG





Melakukan suatu dengan kondisi sembunyi-sembunyi, merupakan suatu yang menakjubkan, yang ujungnya berakhir dengan 'tak disangka'. Memberikan kejutan dihari special kepada orang-orang yang kita kasihi atau dari sisi negatif dari sembunyi adalah ketika menjalani kehidupan 'backstreet'

Ia yang menjalani sembunyi, adalah nekat yang diiringi siap terima resiko jika gagal untuk mencapai satu tujuan. Demi mengikuti kata hati, apapun bisa dilakukan meskipun tantangannya tidak mudah dilalui. Ia sebenarnya memberontak terhadap waktu, tenaga dan pikiran. Dan itulah keputusan dan konsekuensi yang sudah ditimbang sebelumnya. Dan bisa dikatakan sebagai 'pejuang' mengabdi kepada tujuan yang ia ingin capai yang tidak kenal yang namanya 'menyerah'