Mengasihi dengan pikiran? jujur, saat pertama kali dengar dari salah seorang teman "co kwa, mengasihi musti pake akal budi", langsung kebingungan. Bingung itu karena tidak tau definisikannya bagaimana. Tapi, puji Tuhan setelah minta hikmatnya lewat doa and bergumul akhirnya saya bisa menjelaskan dengan versai saya sendiri. (haha spekulasi dikit nda apa-apa ya?). Saya harap bisa menjadi berkat buat para pembaca. :)
Siang itu lagi tidak ada kerjaan tumben-tumbennya Roh Kudus turun atasku untuk buka-buka baca Alkitab dan pas buka bener2 jadi jawaban atas doa saya.
Amsal 23:7 mengajarkan pada kita bahwa sebagaimana kita berfikir, begitulah jugalah diri kita. Jadi, ketika muncul dalam pikiran kita adalah hal-hal yang baik and menunjukan kasih, kita pun menjadi pengasih dan hati dipenuhi dengan damai sejahtera. Jadi, ketika dalam pikiran kita adalah kemarahan kepada individu tertentu untuk 1 periode waktu dan tiba-tiba berjumpa, kita bakal menemukan kesulitan untuk memperlakukan dengan cara yang penuh kasih. Maybe... teman-teman akan bertanya : "Lantas? apa yang harus kita perbuat jika kasih harus bentrok dengan kebencian kita terhadap individu yang telah berbuat kesalahan?"
Hey! yang menjadi tanggung jawab kita adalah "MEMBUANG PIKIRAN BURUK, MENGUASAI, dan MENGGANTIKAN DENGAN PIKIRAN POSITIF"
Kasih kita harus tulus jika mau seseorang berubah saat kita memikirkannya dan menegur dia, yang harus kita perbuat adalah sbb :
- Intropeksi diri. Memikirkan kesalahan diri sendiri dan berusaha menghilangkkannya agar kita tercermin pribadi yang positif terhadap individu tersebut. Dengan kata lain,kita harus menjaga pikiran dan berani bertindak untuk memperbaharui sikap kita sehari-hari (Efesus 4:23)
- Menegur dengan bahasa kasih dengan sikap yang penuh kasih.
Memunculkan pikiran2 yang positif dengan sengaja. Tuhan Yesus saja lebih melihat sisi positif/baik dari diri kita yang penuh dengan kelemahan. Gak percaya? Ok! mari kita melihat cara Yesus yang sungguh luar biasa untukk kita umat manusia yang berdosa :
- Yohanes 3:16, Kasih yang besar menghapus kesalahan yang teramat besar.
- Salah satu perkataannya di kayu salib : "Ya Tuhan... ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"
Nah, bagaimana dengan kita? jika kita diperhadapkan dengan kesalahan kecil yang tidak bisa diampuni? mungkin, kalian berkata "Ah... manusiawi kok, kita bisa marah"
Tidak! kita harus berupaya keras untuk menemukan kebaikan dalam diri orang lain, dengan begitu, kita serupa dengan Dia yang maha pengasih dan maha pengampun. Percayalah, Ia terlebih dahulu menemukan kebaikan dalam diri kita dan mulai membangunnya sampai akhirnya melampaui-melampaui semua keburukan yang ada pada kita. Dan yang terakhir adalah,
- Sisihkan waktu untuk duduk dengan tenang dan renungkan hal-hal yang baik tentang seorang yang anda kenal dan bandingkan seberapa lebih baik dengan anda sendiri. Jika itu dilakukan secara terus-menerus/rutin, anda akan memperhatikan perubahan-perubahan dalam diri sikap sesorang menjadi sesuai dengan anda harapkan. ^_^
GB'US
- Ansyella Kawahe-